Sabtu, 25 April 2009

Faktor keberuntungan – Bagian I
Alfred Alinazar, 13 Agustus 2004
------------ --------- --------- --------- --------- --

Keberuntungan adalah salah satu faktor yg seringkali membawa seseorang
menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Beberapa orang terkenal bahkan
mengakui bahwa factor terbesar yg menyebabkan keberhasilannya adalah
keberuntungan. Mari kita simak beberapa pendapat orang2 terkenal
berikut mengenai keberuntungan.

“Popularity and Glamour are only part of the factors involved in
winning elections. One of the most important of all is luck. In my
case, luck was always with me” – Harry Truman (mantan Presiden United
States) –

“Entirely too much stress is put on the makin of money. That does not
require brains. Some of the biggest fools I know are the wealthiest.
As a matter of fact, I believe that success is 95 percent luck and 5
percent ability. Take my own case. I know that there are any number of
men in my employ who could run my business just as well as I can. They
didn’t get the breaks – that’s the only difference between them and
me” – Julius Rosenwald (mantan Presiden of Sears, Roebuck and company)
-

Andaikata ada orang yang bisa menemukan jurus-jurus untuk menjadi
beruntung, tentu akan banyak orang yang berguru pada penemu jurus
tersebut karena begitu besarnya factor keberuntungan itu pada
kesuksesan seseorang.

Alkhisah ada seorang pesulap terkenal dari Inggris yg bernama Richard
Wiseman. Pada suatu acara pentas sulapnya, dia mempertunjukkan sebuah
trick yang semestinya amat memukau penonton. Pada pertunjukan itu,
Richard meminjam uang kertas 10 pound dari salah seorang pentonton yg
kebetulan perempuan. Dia meletakkan uang tersebut pada 1 dari 20
amplop yg identik, dan mengaduk2 amplop resebut. Kemudian dia meminta
si perempuan untuk memilih salah satu dari amplop tersebut. Setelah
itu, Richard membakar sisa amplop yg tidak dipilih oleh si perempuan
tersebut. Akhirnya Richard membuka amplop yg dipilih tersebut,
mengeluarkan uang dari amplop tersebut dan mengucapkan selamat pada si
perempuan pemilik duit tadi.

Para penonton tertawa dan memberikan tepuk tangan yg meriah atas
pertunjukan yg menarik itu, namun si empunya duit malah tidak tampak
terkejut sama sekali dengan pertunjukan itu. Richard agak terkejut
akan kejadian yang tidak biasa ini. Biasanya partisipan yg meminjamkan
duitnya akan terkejut dan terheran-heran sementara kali ini perempuan
ini tampak biasa-biasa saja. Akhirnya Richard bertanya kepada si
empunya duit tentang apa yang dirasakan si perempuan. Dengan tenang si
perempuan menjawab bahwa ini hal yg biasa terjadi sepanjang hidupnya.
Dia selalu berada pada tempat yg tepat, pada saat yg tepat, dan
mengalami banyak keberuntungan besar dalam kehidupan pribadi dan
profesionalnya. Dia memang tak begitu mengerti bagaimana itu terjadi,
tapi dia merasa yakin bahwa dirinya selalu beruntung.

Tergugah atas kepercayaan- diri si perempuan tersebut, Richard kemudian
bertanya kepada seluruh penonton jika ada yg merasa sangat beruntung
seperti wanita tadi, atau ada yg merasa sangat tidak beruntung.
Seorang wanita lain yg duduk di bangku paling depan segera mengangkat
tangannya dan mengaku bahwa dia selalu beruntung sepanjang hidupnya.
Sebaliknya, ada seorang laki2 yg duduk di deretan bangku belakang
justru mengaku sangat tidak beruntung. Laki2 tersebut begitu yakin
bahwa jika uang-nya yg dipinjam Richard, tentu uangnya sudah terbakar
dan tak akan didapatkannya kembali. Laki2 ini merasa
ketidakberuntungan selalu datang sepanjang hidupnya.

Kejadian ini sangat menarik bagi Richard Wiseman, yg kemudian
mendapatkan gelar doctor-nya pada fakultas psikologi di Univeritas
Edinburgh ini. Professor Wiseman bertanya-tanya mengapa ada orang yang
merasa sangat beruntung sementara ada juga orang lain merasa sangat
tidak beruntung. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengadakan riset
mengenai keberuntungan ini, dan salah satu tulisannya bisa dibaca pada
buku-nya yg berjudul “The Luck Factor”.

Sang Professor kemudian melakukan survey dengan rentang yg sangat
lebar dari beberapa orang – laki2 dan perempuan, tua dan muda. Hasil
survey tersebut menunjukkan bahwa 50 % dari partisipan mengaku bahwa
mereka mendapatkan keberuntungan dengan konsisten dan selalu beruntung
sepanjang hidupnnya. Sementara 14% yang lain berpendapat bahwa mereka
selalu ditimpa ketidakberuntungan sepanjang hidupnya, ibarat pepatah
terkenal Indonesia yaitu “sudah jatuh, tertimpa tangga”. Sedangkan
sisa-nya, 36% mengaku kadang-kadang beruntung dan kadang-kadang tidak
beruntung. Dengan kata lain, 64 % dari partisipan mengaku mendapatkan
keberuntungan atau ketidak beruntungan secara konsisten. Yg membuat
lebih menarik adalah bahwa orang-orang yg beruntung dalam salah satu
area kehidupannya ternyata juga beruntung dalam beberapa area lain
dalam kehidupannya. Orang yang beruntung dalam pekerjaan ternyata juga
beruntung dalam kehidupan rumah tangganya. Sebaliknya orang yang tidak
beruntung dalam karir-nya ternyata juga tidak beruntung dalam cerita
cinta-nya.

Penelitian ini membuat Richard yakin bahwa keberuntungan ini tentu
bukan hanya semata sebuah kebetulan. Sesuatu yang kebetulan tentunya
tidak akan terjadi berulang2 dan konsisten. Tentunya ada sesuatu yang
menyebabkan seseorang mendapatkan keberutungan secara konsisten
sementara yang lainnya justru mendapatkan ketidakberuntungan secara
konsisten.

sumber diambil dari millis atp_ugm